Asam
amino adalah unit struktural dasar dari protein atau molekul organik yang
merupakan monomer penyusun protein. Terdapat 20 jenis asam amino yang berbeda
yang dapat ditemukan dalam protein, yaitu 9 asam amino esensial, 3 asam amino
kondisional atau semi-esensial, dan 8 asam amino non-esensial. dan setiap jenis
memiliki struktur kimia yang unik dan fungsi yang berbeda dalam tubuh. Asam
amino berperan penting dalam membangun dan memelihara jaringan otot, serta
dalam proses metabolisme seluler.
Fungsi utama asam amino dalam tubuh adalah sebagai bahan bangunan protein, yang berperan penting dalam pembentukan dan perbaikan jaringan otot, organ, dan sel. Selain itu, beberapa asam amino juga berperan sebagai bahan bakar untuk energi, serta sebagai prekursor molekul biologis seperti neurotransmiter, hormon, dan zat-zat penting lainnya dalam tubuh.
BCAA (Branched-chain amino acid)
BCAA
(Branched-chain amino acid) adalah jenis asam amino esensial yang terdiri dari
leusin, isoleusin, dan valin. Ketiga asam amino ini disebut bercabang karena
struktur kimianya memiliki cabang atau rantai samping yang lebih panjang
daripada asam amino esensial lainnya. BCAA sering digunakan sebagai suplemen dalam
dunia olahraga, terutama dalam pembentukan otot dan meningkatkan performa
atletik.
Sejarah penggunaan BCAA sebagai suplemen bermula dari penelitian pada tahun 1980-an yang menunjukkan bahwa BCAA dapat membantu meningkatkan sintesis protein dan mengurangi kerusakan jaringan otot selama latihan intensif. Sejak saat itu, penggunaan BCAA sebagai suplemen untuk meningkatkan performa dan pemulihan otot menjadi populer di kalangan atlet dan binaragawan.
EAA (Essential amino acid)
EAA
(Essential amino acid) adalah jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh
tubuh karena tidak dapat diproduksi oleh tubuh sendiri an harus diperoleh
melalui makanan atau suplemen. Kelompok EAA terdiri dari sembilan jenis asam
amino, yaitu leusin, isoleusin, valin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin,
triptofan, dan histidin (histidin termasuk dalam kategori esensial untuk
anak-anak namun dapat diproduksi oleh tubuh dewasa).
Sejarah
penggunaan EAA sebagai suplemen berkaitan erat dengan sejarah penelitian
tentang nutrisi manusia dan pengembangan teknologi untuk memproduksi asam amino
secara sintetis. Pada awal abad ke-20, ilmuwan menemukan bahwa asam amino
adalah bahan bangunan dasar protein dalam makanan dan bahwa kekurangan asam
amino tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan. Pada 1950-an dan 1960-an,
penelitian di bidang nutrisi manusia semakin berkembang dan mengarah pada
penemuan asam amino esensial dan non-esensial. Pada akhirnya, teknologi
pengembangan dan produksi asam amino sintetis memungkinkan produksi EAA dalam
bentuk suplemen.
Perbedaan
utama antara BCAA dan EAA adalah jumlah asam amino yang terkandung di dalamnya.
BCAA hanya terdiri dari tiga asam amino esensial, yaitu leusin, isoleusin, dan
valin, sedangkan EAA mengandung keseluruhan sembilan asam amino esensial yang
diperlukan oleh tubuh manusia. Selain itu, EAA juga termasuk dalam kelompok
asam amino yang lengkap, yang artinya mereka mengandung semua asam amino yang
diperlukan oleh tubuh manusia, termasuk asam amino non-esensial. Dalam konteks
latihan dan pemulihan otot, beberapa studi menunjukkan bahwa EAA dapat lebih
efektif dalam meningkatkan sintesis protein otot daripada BCAA karena kandungan
asam amino yang lebih lengkap dan seimbang. Namun, penggunaan BCAA juga masih
dianggap efektif untuk membantu mencegah kerusakan otot selama latihan intensif
dan mempercepat pemulihan otot setelah latihan.
Penggunaan EAA sebagai suplemen untuk meningkatkan sintesis protein otot dan mempercepat pemulihan otot setelah latihan telah menjadi populer di kalangan atlet dan binaragawan. Studi-studi telah menunjukkan bahwa konsumsi EAA secara tepat dapat membantu meningkatkan sintesis protein otot dan meminimalkan kerusakan otot selama latihan intensif, sehingga dapat meningkatkan kemampuan atlet dan mempercepat pemulihan setelah latihan. EAA juga digunakan sebagai suplemen diet untuk memenuhi kebutuhan asam amino pada orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan asam amino melalui makanan atau orang yang menjalani diet khusus, seperti vegetarian atau vegan.
DAA (D-Aspartic Acid)
DAA
adalah singkatan dari asam amino D-Aspartic Acid (asam aspartat D), yang
ditemukan pada tahun 1827 oleh ilmuwan Prancis, Auguste-Arthur Plisson.
D-Aspartic Acid adalah bentuk asam amino yang relatif baru yang telah menarik
perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena potensinya sebagai suplemen
peningkat testosteron alami.
Dalam
tubuh, DAA dapat meningkatkan produksi hormon gonadotropin, yang kemudian
merangsang produksi testosteron di testis. Testosteron adalah hormon seks pria
yang bertanggung jawab untuk perkembangan dan pemeliharaan otot, serta
meningkatkan libido dan fungsi seksual.
Dalam
konteks olahraga, DAA sering digunakan sebagai suplemen untuk meningkatkan
massa otot dan kekuatan. Namun, manfaat DAA bagi peningkatan kinerja olahraga
masih menjadi kontroversi di kalangan ahli, dan lebih banyak penelitian
diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keselamatan penggunaan DAA sebagai
suplemen olahraga.
Sejarah
penggunaan DAA sebagai suplemen dimulai pada tahun 2009 ketika sebuah studi
menunjukkan bahwa konsumsi DAA selama 12 hari dapat meningkatkan kadar
testosteron bebas dan hormon pertumbuhan pada pria yang sehat. Sejak itu,
penggunaan DAA sebagai suplemen untuk meningkatkan massa otot, kekuatan, dan
performa telah menjadi semakin populer di kalangan atlet dan binaragawan.
Namun, perlu diingat bahwa penggunaan DAA harus dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi terlebih dahulu, karena dosis yang berlebihan atau penggunaan yang tidak sesuai dapat menyebabkan efek samping yang merugikan pada kesehatan. Selain itu, penggunaan DAA dapat mempengaruhi hasil tes doping dalam olahraga dan seharusnya tidak digunakan oleh atlet yang menjalani tes doping rutin.
CAA (Conditionally Essential Amino Acids)
CAA
(Conditionally Essential Amino Acids) adalah jenis asam amino yang diperlukan
oleh tubuh dalam kondisi tertentu, misalnya pada saat stres, cedera atau
penyakit, dan tidak selalu diproduksi oleh tubuh dalam jumlah cukup. CAA
termasuk dalam kategori asam amino esensial yang tergolong tidak esensial
karena biasanya dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi dalam kondisi tertentu
dapat menjadi esensial karena kebutuhannya meningkat.
Beberapa
contoh CAA adalah arginin, histidin, taurin, tirosin, dan sistein. Arginin dan
histidin, misalnya, penting untuk produksi oksida nitrat, yang dapat
meningkatkan aliran darah dan membantu mengurangi kelelahan selama latihan.
Suplemen
CAA biasanya digunakan untuk membantu mempercepat pemulihan otot setelah
latihan dan mengurangi kelelahan selama latihan. Beberapa penelitian juga menunjukkan
bahwa CAA, seperti arginin, dapat membantu meningkatkan aliran darah ke otot
dan memperbaiki masalah kesehatan tertentu, seperti tekanan darah tinggi atau
disfungsi ereksi.
Namun,
perlu diingat bahwa suplemen CAA tidak selalu diperlukan bagi orang sehat yang
sudah memiliki asupan protein yang cukup dari makanan sehari-hari. Penggunaan
suplemen CAA sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli
gizi untuk memastikan bahwa dosis dan jenis suplemen yang digunakan aman bagi
tubuh.
Dalam
rangkaian asam amino, CAA termasuk ke dalam kategori asam amino semi-esensial,
yaitu asam amino yang sebagian besar dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi dalam
kondisi tertentu, seperti saat stres fisik, metabolisme tidak mampu
memproduksinya dalam jumlah yang cukup. Perbedaan CAA dengan BCAA dan EAA
adalah bahwa BCAA dan EAA termasuk dalam kategori asam amino esensial yang
selalu dibutuhkan oleh tubuh dan tidak dapat diproduksi sendiri. Sedangkan CAA
dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi dalam kondisi tertentu kebutuhan tubuh akan
CAA meningkat dan harus dipenuhi melalui asupan makanan atau suplemen.
Sejarah CAA tidak sepopuler sejarah BCAA dan EAA, karena CAA dikenal sebagai jenis asam amino yang kurang dipelajari. Namun, dengan semakin banyaknya penelitian tentang kebutuhan tubuh akan CAA dalam kondisi tertentu, penggunaan suplemen CAA mulai banyak diminati oleh orang-orang yang ingin meningkatkan kinerja olahraga atau menjaga kesehatan tubuh secara umum.
NEAA (Non-essential amino acid)
NEAA
(Non-Essential Amino Acids) merupakan jenis asam amino yang tidak termasuk
dalam kategori asam amino esensial. NEAA dapat diproduksi oleh tubuh manusia
sendiri, sehingga tidak diperlukan suplemen atau asupan makanan khusus untuk
memenuhi kebutuhan asam amino tersebut. Dalam pembentukan otot, NEAA berperan
penting dalam membantu memperbaiki dan meregenerasi jaringan otot yang rusak.
Selain itu, NEAA juga berfungsi sebagai bahan pembentuk protein dan bagian dari
enzim yang berperan dalam berbagai reaksi biokimia dalam tubuh.
Beberapa
contoh NEAA yang penting untuk pembentukan otot adalah asam glutamat, asam
aspartat, arginin, serin, prolin, glicin, dan alanin. Asam glutamat dan asam
aspartat, misalnya, merupakan prekursor dari glutamin dan asparagin, yang merupakan
asam amino esensial yang penting dalam pembentukan otot.
Meskipun
NEAA diproduksi oleh tubuh manusia sendiri, kekurangan atau ketidakseimbangan
asam amino dalam tubuh dapat mempengaruhi fungsi dan kesehatan tubuh secara
keseluruhan. Sebagai contoh, kekurangan asam amino arginin dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perbaikan jaringan, serta mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan asam amino dalam tubuh
melalui pola makan yang sehat dan seimbang.
Perbedaan utama antara NEAA dan asam amino esensial (EAA) atau asam amino non-esensial (CAA) adalah pada kemampuan tubuh untuk memproduksinya. EAA tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia dan harus diperoleh dari makanan atau suplemen, sedangkan CAA dapat diproduksi oleh tubuh, tetapi dapat juga diperoleh dari makanan atau suplemen. Sedangkan NEAA, dapat diproduksi oleh tubuh manusia sendiri dan tidak perlu diperoleh dari makanan atau suplemen, meskipun tetap diperlukan dalam jumlah yang cukup untuk menjaga keseimbangan asam amino dalam tubuh.
LCAA (Large Chain Amino Acids)
LCAA
(Large Chain Amino Acids) dikenal juga sebagai non-essential amino acids. LCAA
terdiri dari 7 asam amino yaitu glutamin, asam aspartat, serin, asam glutamat,
prolin, alanin, dan glicin.
Sejarah
LCAA tidak sepopuler BCAA atau EAA, namun LCAA memiliki peran penting dalam
pembentukan protein tubuh. Asam amino non-esensial ini diproduksi oleh tubuh
sendiri dan tidak diperlukan dalam bentuk suplemen jika tubuh sehat dan
memiliki asupan protein yang cukup.
Meskipun
demikian, LCAA tetap berperan penting dalam metabolisme tubuh dan dapat
membantu dalam proses pemulihan dan regenerasi otot. Beberapa studi menunjukkan
bahwa asupan glutamin dan asam aspartat dapat meningkatkan sintesis protein dan
mengurangi catabolisme otot.
Perbedaan LCAA dengan asam amino lainnya terletak pada sifatnya yang non-esensial, artinya tubuh dapat memproduksinya sendiri dan tidak perlu mengambil dari makanan atau suplemen. Meskipun begitu, LCAA tetap dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk memastikan kesehatan dan fungsi tubuh yang optimal.
